- Back to Home »
- Biografi »
- Tentang PT Dirgantara Indonesia
Posted by : Unknown
Senin, 07 April 2014
Pada awal hingga pertengahan tahun 2000-an Dirgantara Indonesia mulai menunjukkan kebangkitannya kembali, banyak pesanan dari luar negeri seperti Thailand, Malaysia, Brunei, Korea, Filipina dan lain-lain. Meskipun begitu, karena dinilai tidak mampu membayar utang berupa kompensasi dan manfaat pensiun dan jaminan hari tua kepada mantan karyawannya, DI dinyatakan pailitoleh Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada 4 September 2007. Namun pada tanggal 24 Oktober 2007keputusan pailit tersebut dibatalkan. Dirgantara Indonesia tidak hanya memproduksi berbagai pesawat tetapi juga helikopter, senjata, menyediakan pelatihan dan jasa pemeliharaan (maintenance service) untuk mesin-mesin pesawat. Dirgantara Indonesia juga menjadi sub-kontraktor untuk industri-industri pesawat terbang besar di dunia seperti Boeing, Airbus, General Dynamic, Fokker dan lain sebagainya. Dirgantara Indonesia pernah mempunyai karyawan sampai 16 ribu orang. Karena krisis ekonomi yang melanda Indonesia, Dirgantara Indonesia melakukan rasionalisasi karyawannya hingga menjadi berjumlah sekitar 4000 orang.
Tahun 2012 merupakan momen kebangkitan Dirgantara Indonesia. Pada awal 2012 Dirgantara Indonesia berhasil mengirimkan 4 pesawat CN235 pesanan Korea Selatan. Selain itu Dirgantara Indonesia juga sedang berusaha menyelesaikan 3 pesawat CN235 pesanan TNI AL, dan 24 Heli Super Puma dari EUROCOPTER.
Selain beberapa pesawat tersebut Dirgantara Indonesia juga sedang menjajaki untuk membangun pesawat C295 (CN235 versi jumbo) dan N219, serta kerja sama dengan Korea Selatan dalam membangun pesawat tempur siluman KFX.
Sejarah awal
| Jenis | Badan Usaha Milik Negara Strategis |
|---|---|
| Industri | Dirgantara dan Pertahanan |
| Didirikan | 23 Agustus 1976, berdasar akte notaris 15 pada 26 April 1976 di Jakarta |
| Kantor pusat | Bandung, Indonesia |
| Produk | Pesawat komersial Pesawat militer Komponen pesawat Servis pesawat Pertahanan Teknik (engineering) |
| Karyawan | 16.000 |
LAPIP
Kependekan dari Lembaga Persiapan Industri Penerbangan diresmikan pada 16 Desember 1961, dibentuk oleh KASAU untuk mempersiapkan Industri Penerbangan yang mempunyai kemampuan untuk mendukung kegiatan penerbangan nasional Indonesia
Sehubungan dengan ini LAPIP pada tahun 1961 menandatangani perjanjian kerjasama dengan CEKOP (industri pesawat terbang Polandia) untuk membangun sebuah industri pesawat terbang di Indonesia.
Kontrak dengan CEKOP:
- Menbangun gedung untuk fasilitas manufaktur pesawat terbang
- Pelatihan SDM
- Memproduksi PZL-104 Wilga under licence sebagai Gelatik
Gelatik
Pesawat Gelatik diproduksi sebanyak 44 unit,dipergunakan sebagai pesawat pertanian, transpor ringan dan aero-club
LIPNUR
Pada tahun 1965 Berdiri KOPELAPIP (Komando Pelaksana Industri Pesawat Terbang) dan PN. Industri Pesawat Terbang Berdikarimelalui Dekrit Presiden. Setelah pada tahun 1966 Nurtanio meninggal, Pemerintah menggabungkan KOPELAPIP dan PN. Industri Pesawat Terbang Berdikari menjadi LIPNUR kependekan dari Lembaga Industri Penerbangan Nurtanio untuk menghormati kepeloporan almarhum Nurtanio.
Kemudian setelah itu datanglah BJ Habibie yang mengubah LIPNUR menjadi IPTN yang dikemudian hari sempat tercatat sebagai industri pesawat terbang termaju di negara berkembang.
Produksi
Pesawat Sayap Tetap
- N-2130, Proyek Dihentikan karena krisis finansial Asia 1997
- N-250 (Tahap uji terbang prototype)
- NC-212
- CN-235
- N-219
- N-245, pengembangan dari CN-235 dengan peningkatan kapasitas pesawat
- Sikumbang produksi era Nurtanio
- Belalang produksi era Nurtanio
- Kunang produksi era Nurtanio
- Gelatik produksi era LAPIP lisensi dari CEKOP Polandia (sekarang dikenal dengan nama PZL)
Komponen pesawat (sebagai sub-kontraktor pabrikan luar negeri)
- Komponen sayap dari Boeing 737
- Komponen sayap dari Boeing 767
- Komponen sayap dari Airbus A320
- Komponen sayap dari Airbus A330
- Komponen sayap dari Airbus A340
- Komponen sayap dari Airbus A380
- Komponen sayap dari Airbus A350
- Komponen ekor dari Sukhoi Superjet 100
Helikopter
- NBO 105 dipergunakan secara luas di Indonesia, lisensi dari MBB Jerman. Dihentikan sejak juli 2011.
- NBK 117
- NBell 412 lisensi dari Bell Helicopter, AS
- NAS 330 Puma lisensi dari Aerospatiale, Perancis
- Eurocopter 332 Super Puma Pengembangan dari Puma, lisensi dari Eurocopter, Perancis
- Eurocopter Fennec pengganti NBO 105.
- Eurocopter Ecureuil pengganti NBO 105.
- Eurocopter EC725
- Tailboom dan fuselage dari EC 725 dan EC 225
Lainnya
- SUT Torpedo
- Turbin Uap 2 MW oleh PT Nusantara Turbin Propulsi (anak perusahaan PT. DI)
- Turbin Uap 4 MW oleh PT Nusantara Turbin Propulsi (anak perusahaan PT. DI)
- Hovercraft